Rabu, 11 November 2015

Hanya Dengan Modal Beasiswa , Bisa Keliling Ke Beberapa Negara

Syifa Syarifah Alamiyah , 31 tahun . Dosen program studi ilmu komunikasi disalah satu PTN Surabaya. Dosen yang satu ini adalah dosen inspiratif sekali karena diwaktu muda sudah pergi ke beberapa negara tanpa mengeluarkan sepeser uang pun dengan bermodal beasiswa . Dosen yang kerap dipanggil Ibu Syifa ini tinggal di Wiguna Regency , Surabaya . Beliau adalah anak kedua dari enam bersaudara. Kecintaan dan minatnya untuk pergi keluar negeri itu berawal ketika masih TK . Salah satu kegemarannya adalah membaca. Sejak kecil, Kurang lebih usia TK beliau sering baca buku. “buku apapun yang ada dirumah Saya baca walaupun buku-buku dewasa tapi dewasa dalam artian buku berat”, tuturnya . Dari bacaan-bacaan itu beliau tertarik keluar negeri , salah satu bacaannya adalah “The Melting Pot”. Didalam buku ini mengisahkan tentang kehidupan Amerika, banyak orang yang ingin pergi ke Amerika dengan harapan ingin memperbaiki kehidupan. Itupun beliau baca waktu SD , “Saya membaca buku-buku dewasa itu waktu saya TK dan SD , SMP dan SMA malah suka baca komik“ tegasnya. Banyak sekali buku-buku yang beliau habiskan, salah satunya buku tentang kisah dari berbagai Negara, itu membuat beliau semakin ingin pergi ke Luar Negeri. ketika kuliah beliau mengambil program study ilmu komunikasi di UNPAD, dengan harapan dapat keluar negeri . Awalnya beliau minat ke jurnalis, namun ternyata hati berkata lain. Akhirnya pindah konsentrasi ke Public Relations. Dari situ beliau berfikir, ambil PR itu ternyata jarang banget bisa keluar negeri . Lalu beliau memutuskan menjadi dosen untuk bisa keluar negeri . Beliau pernah megikuti Konferensi Asia Afrika yg ke 50 “Golden Ceremony” . Karena menjadi panitia, beliau pergi ke Malaysia untuk pelatihan Event Manajemen . Itu pertama kali beliau keluar negeri. Setelah itu ke Korea Selatan dengan bermodal beasiswa . Akomodasi tiket maskapai dan biaya kuliah dibiayai oleh Pemerintah, namun biaya hidup dan asrama sendiri. Tabungan yang telah disiapkan ternyata belum cukup untuk bisa keluar negeri, Akhirnya beliaupun bertekat membuat proposal untuk meminta dana kepada Gubernur, Bupati, sampai ke beberapa Dosen . Karena begitu kerasnya ingin berangkat keluar negeri, itupun ketika beliau masih semester 4 . Salah satu dosen yang masih berkesan adalah Pak Dadang , Ketua KPI pusat . Beliau memberikan dana yang mungkin lebih dari cukup hingga darah kelahiran Sunda ini terenyuh. Sampai disana beliau adalah satu-satunya orang Indonesia dan semua rekannya adalah bule karena kelas internasional. Paska lulus kuliah, beliau pun lebih berusaha lagi dalam meraih cita-citanya yang begitu jelas dan tahu tujuan hidupnya . Untuk keluar negeri sendiri tanpa beasiswa itu begitu mahal . Beliau dari keluarga yang sederhana , Ibu beliau adalah seorang Guru , Ayah beliau adalah PNS . Itu bukan perjalanan yang mudah untuk mendapatkan beasiswa. Beliau pernah sampai wawancara 5 atau 6 kali hingga pada akhirnya lulus , dibeasiswa yang sama sampai 3
tahun berturut-turut hingga pada akhirnya lulus . Beliau juga punya cita-cita yang sederhana yaitu menikah diusia 23 tahun, hingga pada akhrinya terealisasi dan sekarang beliau dikaruniai 2 anak perempuan . Anak pertama duduk dibangku TK , sedangkan anak kedua masih berumur 10 Bulan . Beliau pernah mengajar di UNPAD dan ditahun 2008-2009 beliau resign dari UNPAD untuk pindah ke Surabaya karena Suami beliau bekerja di Surabaya , Beliau memulai karier barunya menjadi Dosen di UPN “Veteran” Jatim sampai pada saat ini . namun cita-citanya yang selalu ingin pergi keluar negeri tak berhenti disitu saja Beliau masih saja mendaftar beasiswa luar negeri hingga yang terakhir ini beliau diterima didua beasiswa sekaligus , terpaksa beliau memutuskan salah satu ada yang diambil dan ditinggalkan . Beliau mengambil Beasiswa ke Australia dengan mengajak Suami dan Anak-anaknya. Beliau juga pernah mengatakan kepada Suami “Jika tahun ini Saya gak lulus beasiswa, Saya pasrah. Saya ambil S2 diUNAIR”.Namun Tuhan berpihak kepadanya, dan pada akhirnya lulus. .”Intinya kalau Kita ingin sesuatu Kita harus tahu tujuan kita itu apa dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut kalo kata orang sunda mah Kita harus keukeuh”. Tuturnya . “ Disana Saya bersyukur sekali akhirnya bisa keluar negeri karena ternyata disana Saya selain mendapatkan ilmu Saya mendapatkan berbagai pengalaman yang tak bisa kita dapatkan disini. Ilmu Indonesia dengan ilmu luar negeri itu sama , tapi cara melakukan ilmu nya itu berbeda. Mungkin dari segi fasilitas, cara penyampaian atau sistem disana lebih bagus . Saya berharap ketika mendapatkan itu semua, Saya bisa sharing kepada para mahasiswa Saya disini . Mulai dari pengalaman lucu, sedih bahkan konyolpun beliau dapatkan diluar negeri. “ imbuhnya . Pesan dari Beliau mengatakan bahwa .” Ingat bahwa manusia itu yang merencanakan tapi Tuhanlah yang menentukan . Walaupun cita-cita Kita meleset tapi Kita harus percaya ini kehendak Tuhan , Kita tetap berusaha mewujudkan cita-cita itu tanpa harus menyalahkan siapapun dan selalu menerima apapun yang diberikan oleh Tuhan”. (by)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar